Assalamu’alaikum^^
Postingan ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya.
Rabu, 31 Juli 2024
Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dengan bus, kami sampai di Madinah pada tanggal 30 Juli, sekitar pukul 21.00.
Setelah beristirahat beberapa jam, kami ke Masjid Nabawi pada pukul 03.00 dini hari untuk sholat tahajud berjamaah. Jarak dari hotel ke Masjid Nabawi sangat dekat. Di perjalanan, kami melewati pertokoan yang menjual abaya, jubah, sorban, dan oleh-oleh. Hampir semua pedagang di sini lancar berbahasa Indonesia. Saat jemaah asal Indonesia lewat, mereka akan beraksi menawarkan dagangannya. Namun menjelang adzan berkumandang, toko-toko ini akan tutup.
Sesampainya di Masjid Nabawi, aku merasa terharu. Masjid yang fotonya kujadikan wallpaper hp selama setahun (fotonya kuminta di sepupuku yang lebih dulu umrah), kini ada di depan mataku. MasyaAllah.
Berbeda dengan di Makkah, hawa di sini lumayan sejuk. Suasananya pun benar-benar tenang. Kalau di Masjidil Haram, kita harus berjalan cepat dan sering berdesak-desakan, terutama jika ingin sholat di dekat Ka'bah. Nah, kalau di Masjid Nabawi, kita bisa berjalan santai tanpa berdesakan.
Ketika langit masih gelap, payung di Masjid Nabawi tertutup seperti ini. Tapi kecantikannya nggak berkurang sama sekali.
Setelah sholat tahajud dan sholat subuh, kami kembali ke hotel untuk sarapan. Sampai di restaurant, aku terharu karena menunya nasi kuning! Walaupun lauknya sederhana, tapi rasanya enak dan Indonesia banget. Denger-denger sih hotel ini punya orang Indonesia. Stafnya pun banyak yang dari Indonesia.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, semua jemaah perempuan berkumpul di lobby untuk ke Raudhah. Raudhah berada di area Masjid Nabawi yang terletak di antara rumah Rasulullah SAW dan mimbar yang beliau gunakan untuk berdakwah. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai taman surga.
Kami mendapat jatah 1 kali masuk Raudhah dari Travel. Kalau ingin masuk lagi, bisa pakai aplikasi Nusuk. Antrian panjang dan mengular. Kurang lebih setelah 1 jam menunggu, kami berhasil masuk.
Muthawif menyarankan kami untuk sholat taubat, sholat hajat, dan sholat dhuha selama di Raudhah. Jemaah nggak boleh terlalu lama di sini karena antriannya panjang. Jadi saat dirasa jemaah sudah lumayan lama sholat dan berdoa, askar (petugas keamanan) akan menyuruh jemaah berdiri dan pergi.
Selama di Raudhah, aku merasa sangat tenang dan semua kecemasanku hilang. Rasanya sangat dekat dengan Rasulullah SAW :’)
Setelah selesai sholat di Raudhah, kami berkeliling di sekitar Masjid Nabawi yang masyaAllah indah sekali! Payungnya terbuka semua. Entah berapa kali aku dan orang tuaku menyebut "masyaAllah" karena takjub.
Lalu aku dan ibuku mampir ke toko oleh-oleh di perjalanan kembali ke hotel. Pedagang di sini lancar berbahasa Indonesia. Kalau kamu perempuan dan masih muda, sudah pasti bakal digodain sama abang-abang di sini. Dipuji-puji tuh biar beli. Mereka juga menerima pembayaran dengan uang rupiah alias uang Jokowi.
Ada percakapan lucu antara pedagang dengan ibuku.
Pedagang: "Mama Haji, kamu mirip Mamah Dedeh."
Ibu: "Dih, masa dibilang mirip Mamah Dedeh." (Sewot)
Pedagang: "Janganlah marah-marah, nanti Mama Haji semakin tua."
Ibu dan aku: (Ngakak)
Pedagang: "Ini anak Mama Haji? Anak Mama Haji cantik, tidak tua."
Ibu dan aku: (Makin ngakak)
Akhirnya kami belanja lumayan banyak di toko pedagang ini karena dia effort banget nyariin barang yang kami mau dan ngasih best deal. Barangnya juga bagus-bagus.
Tapi tetap harus hati-hati sama pedagang di sini. Kalau kuperhatikan, ada pedagang yang over muji dan ngedeketin pembeli sampai bikin risih, ada yang ramah dan baik, ada yang flat banget seolah memberi pertanda, "Mau beli alhamdulillah, nggak beli juga nggak apa-apa."
Setelah membeli beberapa oleh-oleh, kami kembali ke hotel untuk beristirahat, lalu kembali ke Masjid Nabawi sampai isya.
Kamis, 1 Agustus 2024
Pukul 03.00, kami sudah berada di Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat taubat, hajat, dan tahajud. Lalu setelah sholat subuh, kami langsung kembali ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap untuk mengikuti city tour.
Tujuan pertama adalah ke Masjid Quba, yaitu masjid pertama yang dibangun dalam sejarah islam oleh Rasulullah SAW.
"Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi Masjid Quba, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah." (HR. Ibnu Majah)
Sebelumnya muthawif sudah menyuruh kami untuk berwudhu di hotel agar langsung melaksanakan sholat sesampainya di Masjid Quba. Aku dan semua jemaah melaksanakan sholat taubat, hajat, dan dhuha di dalam. Suasana masjid ini sejuk dan tenang. Padahal pengunjungnya lumayan ramai, tapi nggak ada keributan dan nggak desak-desakan.
Setelah itu, kami menuju Kebun Kurma, yang menurutku lebih cocok disebut Toko Kurma. Aneka kurma, jajanan, dan coklat Arab ada di sini. Sales-nya kebanyakan dari Indonesia. Aku membeli beberapa kotak coklat untuk dijadikan oleh-oleh. Di belakang toko ada pohon kurma dan beberapa pedagang. Ada yang menjual bakso dan juga es krim.
Lalu kami diajak ke Masjid Qiblatain dan Masjid Khandaq. Namun kami nggak masuk ke dalam, hanya melihat dari luar saja. Terakhir, kami ke Jabal Uhud.
Jabal Uhud adalah sebuah gunung yang terletak sekitar 5 kilometer dari kota Madinah. Gunung ini dikenal sebagai lokasi Perang Uhud yang terjadi pada tahun 625 M, antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah dan pasukan Quraisy. Dalam perang terebut, gugur 70 syuhada, dan salah satunya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib yang merupakan paman Rasulullah. Makam para pahlawan juga terletak di sini dan diberi pagar pembatas.
Rasulullah SAW bersabda, "Gunung Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang terdapat di surga." (HR. Bukhari)
Setelah berziarah di Jabal Uhud, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap sholat zuhur di Masjid Nabawi. By the way, sama dengan Masjidil Haram, air zamzam di Masjid Nabawi juga melimpah. Petugas di sini juga baik-baik. Aku sering dibantu mengisi botol yang kubawa. Oh ya, jangan lupa siapkan uang kecil untuk bersedekah ke mereka. Mereka nggak pernah minta. Malah mereka keliatan tulus bangettt.
Jumat, 2 Agustus 2024
Pukul 03.00, kami sudah di pelataran Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat tasbih berjamaah. Seingatku, ini adalah kali pertama aku melaksanakan sholat tasbih seumur hidupku.
Setelah sholat subuh, muthawif mengajak kami berkeliling di sekitar Masjid Nabawi. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Saqifah Bani Saidah, yang merupakan lokasi yang sangat bersejarah. Di sinilah, setelah wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat berkumpul untuk membahas pemimpin umat Islam selanjutnya. Di sini pula, Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq terpilih sebagai Khalifah pertama. Saat ini, otoritas setempat menjadikannya taman yang bisa diziarahi.
Lalu kami menuju Masjid Abu Bakar. Dulunya masjid ini adalah rumah Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq. Rasulullah ikut meletakkan batu saat rumah ini dibangun sehingga beliau sering berkunjung ke sini semasa hidupnya.
![]() |
Orang tuaku berfoto di depan Masjid Sayyidina Abu Bakar. So beautiful, masyaAllah. |
Kemudian kami menuju Masjid Ali bin Abi Thalib. Dulunya, masjid ini adalah rumah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, putri Rasulullah. Rasulullah sering berkunjung untuk menemui putrinya. Saat berada di depan masjid, kami menyimak penjelasan tentang bagaimana Sayyidina Ali memegang peranan penting dalam sejarah Islam dan menjadi Khalifah keempat. Selama masa kepemimpinannya, beliau berusaha menjaga keadilan serta memperjuangkan hak-hak kaum yang tertindas.
Lalu kami menuju Masjid Al Ghamamah. "Al Ghamamah" berarti "awan". Dahulu penduduk di sekitar Madinah meminta Rasulullah untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan, karena daerah mereka dilanda kekeringan dan kemarau panjang. Rasulullah mengajak penduduk untuk sholat istisqa’ dan berdoa. Kemudian setelah berdoa, terlihat awan mulai gelap dan tak lama kemudian, turunlah hujan. Dulunya masjid ini berbentuk tanah lapang dan Rasulullah juga memimpin Sholat Ied di sini.
Kemudian saat matahari terbit, kami kembali ke hotel. Sunrise di Masjid Nabawi seindah ini, masyaAllah.
Saat sampai di hotel, kami sarapan dan beristirahat sebentar, lalu bersiap-siap untuk sholat Jumat di Masjid Nabawi. Tiba-tiba aku merasa nggak enak badan dan tenggorokanku sakit seperti akan batuk. Katanya sih wajar, efek perubahan suhu dari Makkah ke Madinah. Hampir semua jemaah mengalami gejala yang sama. Karena nggak kuat berada di dalam masjid yang dingin, aku mengajak ibuku pindah ke pelataran.
Selesai sholat ashar, seorang bapak-bapak yang sepertinya dari Azerbaijan menghampiriku sambil tersenyum dan memberi gelas berisi air lemon. Ternyata beliau sedang bersedekah air lemon ke semua jemaah di areaku. Alhamdulillah, aku memang butuh air lemon untuk melegakan tenggorokanku yang sakit. Selama di tanah suci, berkali-kali aku mengalami kejadian yang menunjukkan bahwa Allah akan memberikan apa yang hamba-Nya butuhkan.
Aku sempat berfoto juga di pelataran Masjid Nabawi. Jujur, jumlah fotoku selama di Makkah dan Madinah mungkin bisa dihitung dengan jari. Orang tuaku nggak jago ngefoto dan aku nggak pede minta tolong orang lain, wkwk. Tapi nggak apa-apa, yang penting foto orang tuaku banyak, soalnya dulu pas mereka haji di tahun 2005, fotonya dikit banget karena belum ada hp secanggih saat ini.
Lalu kami kembali ke hotel untuk packing karena besok adalah hari terakhir di Madinah dan kami akan ke airport di Jeddah. Sedih banget, ya Allah. Aku sangat suka suasana di Madinah. Rasanya pengen lebih lama di sini.
Sabtu, 3 Agustus 2024
Pukul 03.00, kami sudah berada di Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat taubat, hajat, dan tahajud. Lalu setelah sholat subuh, kami langsung kembali ke hotel untuk sarapan, kemudian menyiapkan koper yang akan diangkut ke bus oleh pihak travel.
Aku merasa lega karena semuanya berjalan lancar. Aku juga bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk ke tanah suci di usia yang masih muda ini. Namun, aku juga merasa hampa dan sedih karena sebentar lagi akan back to reality. Aku akan merindukan ketenangan dan kenikmatan saat beribadah di sini. Aku akan berusaha dan terus berdoa agar Allah mengundangku lagi ke tanah suci.
Setelah sampai di King Abdulaziz International Airport, kami terbang ke Jakarta dan mendarat pada tanggal 4 Agustus. Lalu kami menginap di Jakarta semalam, dan terbang ke Lombok pada tanggal 5 Agustus, tepat di hari ulang tahunku. Ya Allah, thank you for everything. This is the best birthday ever.
Perjalanan umrah ini membuatku semakin yakin bahwa Allah mendengar setiap doa hamba-Nya. There's no prayer too big or too small. Allah's timing is always perfect. We just have to trust the process.
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)