Thursday, January 8, 2026

Thank You, 2025!

Assalamu'alaikum^^

Nggak kerasa, kita sudah sampai di awal tahun 2026. Rasanya baru aja bikin resolusi untuk 2025, eh sekarang mesti bikin resolusi lagi. Walau sebenarnya resolusi 2025 banyak juga yang belum tercapai. Tapi nggak apa-apa, nanti kita usahakan lagi di 2026.

Saat aku bilang "nggak kerasa", I really mean it. Sejak menjabat sebagai CFO di kantor, aku merasa waktu lebih cepat berlalu. Salah satu alasannya karena aku bertugas menyusun proyeksi dan target tahunan. Contohnya, target untuk tahun 2025 sudah kususun sejak 2024. Jadi ketika masuk ke tahun 2025, otakku merasa seolah sudah “mengalaminya” lebih dulu. Setelah aku cari tahu, ternyata orang-orang yang sering membuat perencanaan strategis dan hidup dengan rutinitas yang sangat terstruktur cenderung merasakan hal ini.

Alasan lainnya, mungkin karena kondisi mentalku lebih stabil dan aku lebih bahagia. Time flies when we're having fun, right?

By the way, ada dua hal besar yang terjadi di tahun 2025, yaitu:

Thursday, October 30, 2025

Sarapan di Bale Sipon

Assalamu'alaikum^^

Hi, guys. Nggak kerasa udah sampai di akhir Oktober aja, ya. Belakangan ini aku ngerasa kurang produktif. Biasanya aku bisa bikin tiga konten per minggu di TikTok, tapi sekarang cuma satu atau dua konten yang ku-upload tiap minggunya. Maklum, menjelang akhir tahun kerjaan di kantor makin padat dan lumayan bikin pusing.

Tapi sebagai generasi yang sangat mementingkan kesehatan mental, tentu aku harus tetap menyempatkan diri untuk jalan-jalan dan kulineran di tengah kesibukan. Aku bersyukur jadi orang yang FOMO. Somehow menjadi FOMO malah bikin aku semangat menjalani hidup, wkwk. Tiap ada tempat kuliner yang viral, pasti aku pengen nyobain. Tapi biasanya aku nunggu viralnya agak mereda, biar nggak ketemu terlalu banyak manusia. 

Nah, salah satu tempat kuliner yang kemarin sempat ramai diperbincangkan adalah Bale Sipon, sebuah kedai di Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Menunya sih sederhana, tapi pemandangannya bikin pengen menetap di sana. Dari kedai ini, kita bisa melihat hamparan sawah sejauh mata memandang, dengan siluet Gunung Rinjani di kejauhan. Udara di sini juga sejuk, nggak sepanas di Kota Mataram.

Untuk bisa melihat siluet Gunung Rinjani dengan jelas, sebaiknya datang pagi-pagi saat matahari baru terbit. Aku sampai di sini sekitar pukul 07.30 dan ternyata gunungnya tertutup awan. Untungnya pemandangan sawahnya tetap memanjakan mata.

Sunday, September 28, 2025

Hiking ke Royal Batu Bolong

Assalamu'alaikum^^

Hi, guys. Semoga kita semua masih waras ya di tengah kejadian-kejadian mencengangkan yang terus bermunculan di negeri tercinta ini. Tiap hari tuh ada aja berita baru yang bikin dahiku mengkerut. Mulai dari kasus mutilasi, korupsi, rumah pejabat yang dijarah, sampai pasangan seleb yang tiba-tiba pisah. Dar der dor banget ya 2025 ini.

Dalam rangka menjaga kewarasan, aku sampai berusaha mengurangi screen time, karena kalau terlalu banyak scrolling dan baca berita negatif, pasti malamnya aku susah tidur. Usaha lain yang kulakukan adalah dengan kembali aktif menjadi pelari kalcer. Aku sempat vakum lari selama sebulan. Akibatnya, aku jadi gampang lelah dan burnout.

Nah, karena belakangan aku sering upload story pas lagi lari, tiba-tiba Mbak Nurul (temanku dari kantor yang sebelumnya) ngajakin aku hiking. Tentunya bukan ke bukit yang tinggi apalagi ke Gunung Rinjani. Karena masih pemula, kami memutuskan untuk hiking ke Royal Batu Bolong, yaitu sebuah resort yang memiliki jalur hiking di dalamnya. 

Tempat ini memang sedang ramai dikunjungi karena jalurnya mudah dan pemandangannya luar biasa indah! Sepanjang perjalanan sampai ke puncak, kita bisa menikmati pemandangan laut dan siluet Gunung Agung.

Thursday, July 31, 2025

A Day in Kuta Mandalika

Assalamu'alaikum^^

Wow, saking gedebag-gedebugnya kehidupanku belakangan ini, aku sampai nggak sempat bikin postingan di bulan Juni. Tapi nggak apa-apa, sekarang aku kembali membawa cerita seru di bulan Juli ðŸ¥³

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang makan sate taichan bareng sahabatku, Susanti, aku kepikiran ide yang agak absurd.

"San, gimana kalau kita pura-pura jadi turis di Kuta Mandalika?" tanyaku penuh semangat.

"Hah? Kita kan emang turis. Turis lokal."

"Iya sih… Tapi maksudku kayak turis asing gitu, yang jalan kaki keliling pantai, makan di restoran, terus cari gelato."

Susanti menatapku sinis. Bersahabat denganku selama 14 tahun membuatnya kebal dengan ide-ide aneh yang aku lontarkan.

Tapi serius deh, aku pengen lebih banyak jalan kaki saat lagi liburan di pulau sendiri, karena biasanya aku melakukan hal ini tiap liburan di luar pulau.

Walau sempat sinis, Susanti tetap menemaniku mewujudkan mimpi absurd ini. Kami pun berangkat ke Kuta Mandalika pada tanggal 6 Juli, pukul 07.00 pagi. Alhamdulillah, cuacanya cerah. Setelah satu jam perjalanan, kami tiba di pemberhentian pertama, yaitu Kawan Kopitiam, sebuah restoran yang menyajikan kuliner khas Malaysia.